just a diary of reminisce family

Awalnya cerita ini saya dengar pada saat saya masih berada di kelas 1 SMA. Ini adalah cerita tentang seorang raja dan penasehatnya yang selalu bersyukur. Alkisah zaman dahulu kala di suatu kerajaan hidup seorang raja yang sangat gemar berburu di hutan belantara. Ia memiliki seorang penasehat yang sangat aneh karena ia selalu bersyukur tentang apa yang terjadi. Ia selalu bersyukur jika ia jatuh dari kuda dan bersyukur jika ia tersesat di dalam istana selama 6 jam. Katanya. ”Masih lebih baik saya jatuh dari kuda daripada saya jatuh dari atas istana, lagipula ini bukti gravitasi masih ada dan bumi belum kiamat, makanya saya bersyukur,” “Saya senang masih bisa tersesat di istana, karena menyenangkan bisa keluar dari istana setelah tersesat berjam-jam, makanya saya bersyukur,” balasnya lagi. Jalan pikirannya yang lurus ini yang membuat raja tertarik untuk menjadikannya penasehat pribadinya.

Suatu hari raja yang sedang berburu di hutan bersama penasehatnya dan pasukannya lari mengejar buruannya, seekor kijang hitam dengan tenaga kuda, Karena terlalu bersemangat raja berusaha mengejar kijang hitam itu dengan kuda putihnya. “Aku akan menebasnya dengan pedangku,” kata raja. Raja kemudian mengayunkan pedangnya, 1 kali, 2kali, dan ,”AHHH.. jariku…” teriak raja kesakitan. Rupanya jari kelingking raja putus terkena pedangnya sendiri. Setelah diobati oleh paramedis raja bertanya, “Penasehat bagaimana ini??? Aku tidak punya jari kelingking lagi!!!” “Bersyukurlah raja, untung yang hilang cuma jari kelingking, untung bukan ibu jari anda yang putus, kalau ibu jari anda yang putus, pasti anda akan kerepotan,” jawab penasehatnya dengan santai. “Kenapa harus bersyukur jari putus begini, alasanmu memang benar, tapi aku tidak menyukainya, mulai sekarang kau kupecat. Prajurit penjarakan dia, kita lihat apakah kau masih dapat bersyukur,” perintah raja. Akhirnya penasehat tersebut dipecat dan dipenjara, tapi seperti biasa dia tetap bersyukur dengan kondisinya sekarang, katanya, “masih lebih baik dipenjara, dapat makan gratis dan tidak berdosa. Ini lebih baik daripada harus mencuri dari pedagang.” Setelah itu raja mempekerjakan penasehat yang baru.

Suatu hari raja ingin sekali berburu di suatu hutan belantara yang tidak pernah dikujunginya sebelumnya. Raja khawatir dengan keselamatannya selama di hutan. Penasehat barunya mengatakan selama raja membawa pasukan yang cukup, keselamatan raja pasti terjaga. Akhirnya raja dan penasehat barunya beserta pasukannya berburu di hutan itu. Tapi karena terlalu bersemangat, raja dan penasehatnya itu terpisah dari rombongan dan tersesat. Setelah berjam-jam mencari jalan keluar tiba-tiba mereka dikepung oleh para suku kanibal. “Penasehat bagaimana ini?” tanya raja bingung. Penasehat itu juga tidak bisa bilang apa-apa. Akhirnya mereka dibawa ke desa suku kanibal itu dan dikurung di sebuah sangkar bambu. “Penasehat bagaimana ini, kita akan dimakan,” tanya raja kahawatir. Kemudian raja bertanya pada warga suku tersebut, “apakah kalian akan memakan kami.” “Tidak, ini lebih baik dari itu. Kalian akan menjadi persembahan kepala suku kami, kalian akan dimasak dengan sesama. Kalian akan jadi makanan yang enak,” jawab seorang warga. Muka raja memutih.

Lalu datanglah juru masak desa itu. Ia melihat raja dan penasehat baru itu dengan seksama lalu membawanya. Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan dari penasehat itu. “Aku akan jadi yang berikutnya,” keluh raja itu. Kemudian juru masak itu datang lagi dan membawa raja. Kemudia ia berkata, “Kau enyahlah dari sini.” Raja kebingungan. “Kau tidak punya jari kelingking, kami tidak bisa mempersembahkanmu ke kepala suku. Kami hanya mempersembahkan daging yang fresh.” Kemudian dengan sekuat tenaga raja itu lari meninggalkan desa itu. Terlihat air mata kebahagiaan mengalir dari matanya. Ia tidak pernah merasa bersyukur seperti saat ini.

Sesampainya di istana raja langsung membebaskan penasehat lamanya. Setelah menceritakan apa yang terjadi raja berkata, “aku ingin meminta maaf karena sudah salah menilaimu. Kau benar, kita harus selalu bersyukur. Untung jari kelingking saya putus, kalau tidak pasti saya sudah jadi daging panggang. Oleh karena itu saya ingin berterima kasih.” “Sama-sama raja. Saya juga ingin berterima kasih karena sudah dipenjara saya sangat bersyukur,” jawab penasehat itu dengan polosnya. “Kenapa kau bersyukur dipenjara, karena dapat makan gratis?” tanya raja heran. Kemudian dengan santainya penasehat itu menjawab, ”untung saya dipenjara, kalau tidak pasti saya sudah jadi daging panggang juga. Pasti saya sudah menjadi santapan kepala suku kanibal itu. Karena itu saya sangat bersyukur saya dipenjara. Terima kasih ya raja”

Cerita ini membuat saya sadar tentang banyaknya hal yang bisa disyukuri di kehidupan ini. Cerita ini mengispirasi saya untuk menjadi pribadi yang selalu bersyukur. Di cerita ini, si penasehat masih bisa bersyukur dalam keadaan kesusahan. Ini mengingatkan saya suatu kata yang saya baca di buku teman saya, “Susah saja bersyukur, apalagi senang.” Karena itu sekarang saya selalu bersyukur dengan segala kesusahan yang terjadi, karena saya yakin ada hal baik yang akan menanti saya.

Nama   : Bima Maha Putra

NRP    : G74100015

Laskar : 22

September 16th, 2010 at 1:46 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Ini adalah kejadian yang pernah saya alami saat saya masih duduk di kelas 3 SMP. Suatu hari saya pernah bertengkar dengan teman sekelas saya. Ini terjadi karena saat jam istirahat ia membanting pintu kelas dan dengan tidak sengaja mengenai muka saya. Saya yang saat itu kalap kemudian memaki-maki dia. Dia yang sebenarnya melakukan itu dengan tidak sengaja merasa tersinggung dan balas marah pada saya juga. Kemudian dia mengajak saya ‘ribut’ dan karena saya masih dalam keadaan emosi akhirnya saya terima mentah-mentah tanpa saya pikirkan lebih dahulu baik buruknya.

Kemudian selesai istirahat, pada saat pelajaran berlangsung saya sudah mulai dapat mengendalikan emosi saya. Pada sela-sela pelajaran saya memikirkan kembali keputusan saya untuk ‘ribut’ dengan teman saya itu. Ada hal yang saya risaukan. Jika dipikirkan dengan akal sehat, saya yang jarang berolahraga ini pasti akan babak belur dihajar olehnya yang termasuk orang paling kuat di kelas tapi bukan itu hal utama yang saya risaukan. Saya lebih merisaukan dampak dari tindakan saya ini, yaitu apa pendapat orang tua saya jika mengetahui anaknya bertengkar di sekolahan, juga pendapat guru saya dan teman-teman saya di sekolah. Tapi yang paling saya risaukan adalah alasan saya bertengakar itu sendiri.

“Apakah saya sudah melakukan hal yang benar?” kata itulah yang terniang dalam pikiran saya. Saya berpikir kembali alasan kenapa kami bertengakar. “Karena dia membenturkan pintu ke muka saya,” jawab saya dalam hati. Kemudian saya mengingat salah satu perkataan teman saya itu saat memarahi balik saya. “Tapi saya kan tidak sengaja,” jawabnya saat itu. Kata tidak sengajanya itu yang selalu terniang di kepala saya. Lagipula dia sebenarnya sudah meminta maaf, tapi karena saya saat itu langsung saja marah saya tidak mendengarnya dengan jelas. Lagipula sayapun pasti akan marah jika saya di posisi teman saya karena saya merasa sudah meminta maaf.

Sekarang sudah jelas saya yang menjadi pemeran jahatnya disini. Tapi kenapa saya rasanya sulit sekali mengucapkan kata maaf dari mulut saya. Mungkin karena ego saya yang terlalu tinggi yang menghambat saya mengucapkan kata maaf saat itu juga. Saya entah mengapa merasa malu untuk mengucapkannya dan terlebih lagi saya takut maaf saya tidak diterima. Tapi setelah pertimbangan panjang yang pikirkan masak-masak dalam hati selama jam pelajaran tersebut, akhirnya dengan membuang seluruh ego saya dan memutuskan untuk meminta maaf karena pada dasarnya sayalah yang salah.

Saya mencoba meminta maaf  saat jam pulang sekolah. Dengan segenap keberanian saya akhirnya mengatakan maaf didepannya. Di dalam pikiran saya masih terpikir bahwa dia akan menolak maaf saya. Tetapi tanpa disangka dia memaafkan saya dengan sangat mudah. Bahkan ia juga meminta maaf kepada saya karena sudah membentak saya. Hal ini tentu sangat melegakan saya karena ternyata semua berjalan dengan sangat baik. Bahkan rasa malu yang tadinya saya pikirkan hilang. Hal ini terus saya kenang hingga saat ini.

Mungkin cerita diatas terkesan simpel dan sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari murid SMP. Tapi cerita ini sangat menginspirasi saya. Ada tiga hal yang saya dapatkan dari pengalaman saya ini.

Hal pertama adalah pentingnya berpikir sebelum bertindak. Kejadian pada cerita diatas terjadi karena saya tidak berpikir terlebih dahulu sebelum saya berbicara. Jika saya tidak spontan marah padanya saat itu, maka hal tersebut tidak akan terjadi dan segalanya tidak akan menjadi serunyam itu.

Hal kedua adalah hindari sifat egois berlebihan. Ini karena sifat egois yang berlebihan akan membuat saya hanya memikirkan diri sendiri dan melihat segala hal dari sudut pandang saya sendiri. Jika kita melihat segala hal dari banyak sudut pandang, maka kita dapat menentukan mana keputusan yang paling baik. Hal ini dapat digunakan dalam banyak situasi.

Hal yang terakhir adalah jangan malu untuk mengakui kesalahan. Sebagai manusia biasa pasti kita memiliki banyak kesalahan yang pernah kita perbuat. Terkadang mengakui kesalah sendiri akan terasa berat tetapi itu adalah keputusan yang paling bijak, karena itu berarti kita telah jujur kepada orang lain dan kepada diri sendiri. Juga jangan takut untuk menerima hukuman karena hukuman dibuat untuk menjadikan kita lebih baik, hal ini sering dilupakan orang.

Oleh karena itu cerita ini mengispirasi saya untuk selalu mengintrospeksi diri saya sendiri dan menjadikan diri saya menjadi manusia yang lebih baik lagi. Mudah-mudah hal ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Nama   : Bima Maha Putra

NRP    : G74100015

Laskar : 22

September 16th, 2010 at 1:45 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan “lagu kebangsaan” di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh suratkabar Sin Po.

Setelah dikumandangkan tahun 1928 dihadapan para peserta Kongres Pemuda II dengan biola, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya. Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka menyanyikan lagu itu dengan mengucapkan “Mulia, Mulia!” (bukan “Merdeka, Merdeka!”) pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan.[1] Selanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik. Setelah Indonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang persatuan bangsa.

Namun pada saat menjelaskan hasil Festival Film Indonesia (FFI) 2006 yang kontroversial dan pada kompas tahun 1990-an, Remy Sylado, seorang budayawan dan seniman senior Indonesia mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya merupakan jiplakan dari sebuah lagu yang diciptakan tahun 1600-an berjudul Lekka Lekka Pinda Pinda. Kaye A. Solapung, seorang pengamat musik, menanggap tulisan Remy dalam Kompas tanggal 22 Desember 1991. Ia mengatakan bahwa Remy hanya sekadar mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada tahun 1950-an. Ia juga mengatakan dengan mengutip Amir Pasaribu bahwa dalam literatur musik, ada lagu Lekka Lekka Pinda Pinda di Belanda, begitu pula Boola-Boola di Amerika Serikat. Solapung kemudian membedah lagu-lagu itu. Menurutnya, lagu Boola-boola dan Lekka Lekka tidak sama persis dengan Indonesia Raya, dengan hanya delapan ketuk yang sama. Begitu juga dengan penggunaan Chord yang jelas berbeda. Sehingga, ia menyimpulkan bahwa Indonesia Raya tidak menjiplak

Lirik modern

INDONESIA RAYA

I

Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg’riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.

II

Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk s’lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,
P’saka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya, Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.

III

Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
N’jaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.

S’lamatlah rakyatnya,
S’lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg’rinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.

Refrain

Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg’riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

July 20th, 2010 at 2:24 am | Comments & Trackbacks (1) | Permalink